Hama pada Tanaman
Kacang Hijau
![]() |
|
Sumber Gambar: http://www.google.co.id
|
Hama
Usaha budi daya kacang hijau banyak mengalami kegagalan terutama karena serangan hama. Hama kacang hijau sering menyerang tanaman yang masih di lahan atau menyerang biji yang telah disimpan di gudang. Berikut ini adalah beberapa hama penting yang sering menyerang tanaman kacang hijau.
1. Lalat kacang (Agromyza phaseoli Coq.)
Gejala
Gejala awal berupa bercak-bercak pada keping
biji atau daun pertama. Bercak ini merupakan tempat peletaka telur. Selanjutnya
terlihat liang gerek pada keping biji atau daun pertama.
Ketika polong yang diserang gugur, larva sudah
berada di dalam batang. Pada saat larva telah berada di pangkal akar daun mulai
layu dan kekuning-kuningan. Tanaman akan mati berumur 3-4 minggu. Jika tanaman
tersebut dicabut akan didapati larva, pupa, atau kulit pupa di antara akar dan
kulit akar. Tanaman yang terserang dan masih tetap hidup menampakkan akar-akar
adventif di bagian terbawah dari batang.
Sejauh yang diketahui, serangannya tidak
sehebat pada tanaman kedelai. Hal ini disebabkan karena keping biji kacang
hijau yang masih muda mudah rontok ketika diserang sehingga tidak memberi
kesempatan pada serangga tersebut untuk bertelur.
Penyebab
Lalat kacang (Agromyza phaseoli Caq.)
sebagai penyebab. Tubuhnya kecil dan berwarna hitam mengilap. Perkawinannya
(kopulasi) biasa terjadi antara pukul 09.00@10.00 pagi. Waktu matahari bersinar
terik, lalat ini bersembunyi di dalam rumput di dekat tanaman kacang hijau.
Lalat kacang bertelur pada pagi hari. Telurnya diletakkan pada keping biji atau
pada daun pertama.
Setelah telur menetas, belatungnya menggerek
dan memakan keping biji atau daun sehingga terbentuk liang. Belatung ini akan
terus menggerek ke tangkai daun dan masuk ke dalam batang sampai pangkal akar,
Kepompong atau pupanya berwarna cokelat kuning. Pada setiap batang tanaman yang
diserang rata-rata terdapat 4-5 pupa.
Pengendalian
Pengendalian dapat dilakukan dengan
menggunakan musuh alami Agromyzae Dodd, Eurytoma poloni, Eurytoma sp.,
dan Cynipid. Selain itu, dapat pula dilakukan penyemprotan insektisida pada
pagi hari, pada saat umur tanaman 4-10 HST.
2. Penggerek polong (Etiella zinckenella Tr.)
Gejala
Gejala serangannya terlihat pada kulit polong
berupa bercak hitam dan bila dibuka terdapat larva yang gemuk dengan
kotoran-kotorannya berwarna hijau basah. Serangan pada polong kedua ditandai
dengan satu lubang gerek yang bentuknya bundar.
Penyebab
Hama penyebabnya adalah penggerek polong (Etiella
zinckenella Tr.). Penggerek polong kacang hijau sama dengan penggerek
polong pada kedelai. Larva yang baru menetas menggerek masuk ke dalam polong
menuju ke bagian bawah. Larva ini memakan biji di dalam polong sampai habis
kemudian berpindah ke polong lain. Bentuk larvanya gemuk dan licin, larva yang
masih kecil berwarna merah kebiru-biruan.
Pengendalian
Hama ini dapat dikendalikan dengan cara
mengatur waktu tanam yang tepat, pergiliran tanaman, dan upaya penanaman secara
serentak. Dapat juga dilakukan penyemprotan insektisida dekametrin, sihalotrin,
dan monokrotofos.
3. Ulat jengkal kedeias (Plusia chalcites Esp.)
Gejala
Ulat ini menyerang tanaman yang sudah agak tua
dan memakan daunnya sehingga tinggal tulangnya saja.
Penyebab
Hama penyebabnya adalah ulat jengkal kedelai (PIusia
chalcites Esp.). Tubuhnya berwarna hijau. Bentuk dewasanya berupa
kupu-kupu. Telur kupu-kupu ini diletakkan berkelompok sebanyak 50 butir.
Stadium telurnya selama 3 hari. Larva tersebut akan menjadi kepompong di antara
daun yang dianyam menjadi satu. Stadium pupanya selama 6 hari.
Pengendalian
Pengendalian
Pengendalian secara mekanis dengan cara
mengumpulkan telur dan larva, sedangkan secara kimiawi dengan insektisida
dekametrin, sihalotrin, diflubenzuron atau monokrotofos.
4. Kepik padi hijau (Nezara viridula)
Gejaia
Gejaia
Polong muda isinya terisap. Bila polong dibuka
tampak bijinya pipih tanpa isi. Bagian yang terserang tampak berbercak hitam.
Penyebab
Hama penyerang adalah kepik padi hijau (Nezara
viridula). Kepik ini meletakkan telurnya yang berwarna kuning secara massal
di permukaan bawah daun. Kelompok telurnya 5-10 butir. Stadium telumya selama 6
hari. Setelah telur menetas, larvanya berkumpui di polong dalam kelompok besar.
Stadium larvanya selama 30 hari. Masa pertumbuhan dari telur hingga dewasa
selama 36 hari.
Pengendalian
Pengendalian secara mekanis dengan
mengumpulkan imago, telur, dan nimfa, sedangkan secara kimiawi dengan
insektisida metamidofos dan karbaril. Selain itu, dapat juga dilakukan dengan
penanaman serempak dengan kisaran waktu tidak lebih dari 26 hari.
5. Thrips sp.
Gejala
Serangan hama ini menyebabkan daun menggulung
ke dalam (keriting) karena sel-sel di bagian atasnya mengerut.
Penyebab
Kutu Thrips menyerang tanaman dengan mengisap
cairan tanaman sehingga mengganggu proses fotosintesis dan mengakibatkan menurunnya
hasil. Penurunannya dapat mencapai 60, bahkan tidak menghasilkan sama sekali
(puso) bila serangannya berat. Pantas jika hewan ini merupakan hama yang paling
berbahaya bagi tanaman kacang hijau. Selama fase vegetatif tanaman, serangan
hama ini sangat rendah.
Pengendalian
Pengendalian dengan menggunakan insektisida
metamidofos, karbaril, atau monokrotofos.
6. Kumbang Callosobruchus
Gejala
Kumbang ini meletakkan telurnya pada permukaan polong atau biji kacang hijau. Larva yang baru menetas langsung menggerek masuk ke dalam biji dan memakan kotiledon serta bagian biji lainnya.
Penyebab
Kumbang Calloso-bruchus maculatus yang menyerang biji. Siklus hidup kumbang ini, pada biji kacang hijau varietas MB 129, berlangsung antara 23-28 hari. Kemampuan bertelur kumbang betina antara 40-90 butir. Persentase telur yang dapat menetas hingga menjadi dewasa sebesar 19-98. Perbandingan antara jantan dewasa dan betinanya 1:1.
Kumbang ini meletakkan telurnya pada permukaan polong atau biji kacang hijau. Larva yang baru menetas langsung menggerek masuk ke dalam biji dan memakan kotiledon serta bagian biji lainnya.
Penyebab
Kumbang Calloso-bruchus maculatus yang menyerang biji. Siklus hidup kumbang ini, pada biji kacang hijau varietas MB 129, berlangsung antara 23-28 hari. Kemampuan bertelur kumbang betina antara 40-90 butir. Persentase telur yang dapat menetas hingga menjadi dewasa sebesar 19-98. Perbandingan antara jantan dewasa dan betinanya 1:1.
Pengendalian
Biji sebaiknya disimpan dalam kantong plastik,
karung plastik, atau kaleng yang tertutup rapat. Biji atau benih yang akan
disimpan hams berkadar air rendah dalam kemasan kedap udara. Kadar air biji 90
dalam kemasan dapat mempertahankan biji selama 6 bulan. Cara lain yaitu dengan
melakukan fumigasi dengan aluminium fosfit atau metil bromida atau dengan
penyemprotan insektisida berbahan aktif pirimiphos metil, femitrothion, atau
metacrifos pada permukaan kemasan.
Gulma pada Tanaman
Kacang Hijau
![]() |
|
Sumber Gambar: www.google.go.id
|
Tingkat produksi kacang hijau secara kuantitas maupun kualitas
sangat dipengaruhi oleh keberadaan gulma, hama, maupun penyakit. Untuk itu,
pengendalian perlu dilakukan secara dini.
Gulma
Gulma atau tanaman pengganggu dapat mengurangi kualitas dan kuantitas produksi tanaman kacang hijau. Dalam hal ini, gulma menjadi pesaing dalam pengambilan unsur hara dan sinar matahari. Selain itu, gulma dapat menjadi tanaman inang hama dan penyakit.
Kerugian yang ditimbulkan oleh gulma sangat
bervanasi, tergantung komposisi populasi dan jenisnya. Untuk memperoleh hasil
yang baik, tanaman kacang hijau harus bebas dan gulma sejak tanam sampai panen.
Pada awal pertumbuhan, kacang hijau hams benar-benar bebas dari gulma karena daya saingnya masih lemah. Pada fase pertumbuhan selanjutnya, kacang hijau dapat menekan pertumbuhan gulma, terutama bila telah menutupi tanah.
Berikut ini adalah macam gulma yang banyak tumbuh pada pertanaman kacang-kacangan pada umumnya.
1. Gramineae: Eleusine indica, Cynodon dactylon, Setaria harbata, Panecum listecen, Eragrotis unihides, dan Asconopus compressus
2. Cyperaceae: Cyperus rotundus.
3. Rumput berdaun lebar: Ageratum conyzoides, Boreira latifolia, Commelina nudiflora, Eleutheranthera ruderalis, Mimosa invisa, Drymaria hirsuta, Boreira leavis, dan Ageratum maxicanum.
Penggunaan herbisida pada kacang hijau belum tersedia data secara detail sehingga masih diperlukan penelitian lebih mendalam. Penggunaan herbisida di tingkat petani belum dilakukan, minimal untuk sebagian besar wilayah (petani), Beberapa penyebabnya antara lain 1) harganya tidak terjangkau oleh petani, 2) tidak tersedia di lokasi/wilayah/areal pertanaman, 3) kurang pengetahuan penggunaan herbisida, dan 4) mungkin kurang menguntungkan. Sebagai gantinya, petani cukup menyiang secara mekal Penyiangan biasanya cukup dua kali, yaitu pada umur sekitar 20 HST dan menjelang/awal berbunga, sekitar 35 HST. Penyiangan jangan dilakukan pada saat tanah terlalu basah karena dapat merusak struktur tanah.
Pada awal pertumbuhan, kacang hijau hams benar-benar bebas dari gulma karena daya saingnya masih lemah. Pada fase pertumbuhan selanjutnya, kacang hijau dapat menekan pertumbuhan gulma, terutama bila telah menutupi tanah.
Berikut ini adalah macam gulma yang banyak tumbuh pada pertanaman kacang-kacangan pada umumnya.
1. Gramineae: Eleusine indica, Cynodon dactylon, Setaria harbata, Panecum listecen, Eragrotis unihides, dan Asconopus compressus
2. Cyperaceae: Cyperus rotundus.
3. Rumput berdaun lebar: Ageratum conyzoides, Boreira latifolia, Commelina nudiflora, Eleutheranthera ruderalis, Mimosa invisa, Drymaria hirsuta, Boreira leavis, dan Ageratum maxicanum.
Penggunaan herbisida pada kacang hijau belum tersedia data secara detail sehingga masih diperlukan penelitian lebih mendalam. Penggunaan herbisida di tingkat petani belum dilakukan, minimal untuk sebagian besar wilayah (petani), Beberapa penyebabnya antara lain 1) harganya tidak terjangkau oleh petani, 2) tidak tersedia di lokasi/wilayah/areal pertanaman, 3) kurang pengetahuan penggunaan herbisida, dan 4) mungkin kurang menguntungkan. Sebagai gantinya, petani cukup menyiang secara mekal Penyiangan biasanya cukup dua kali, yaitu pada umur sekitar 20 HST dan menjelang/awal berbunga, sekitar 35 HST. Penyiangan jangan dilakukan pada saat tanah terlalu basah karena dapat merusak struktur tanah.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar